Bercinta Didapur Sama Tante –kamus69.blogspot.com Tanteku namanya Yuni, dia ini seorang Single parent
dengan tiga orang anak; dua perempuan dan satu laki-laki. Suaminya sudah
meninggal karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal
yang tidak terkenal namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya yang sudah 37
tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena dengan
kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara teratur senam. Hasilnya,
walaupun dengan tiga orang anak, tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya
besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya selain putih dan mulus juga
singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah
kira-kira berapa ukurannya akupun tidak tahu tapi yang jelas masih sekal tidak
kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak.
Kejadiannya
berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak
ada orang hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan
siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar tanteku hanya satu mata kuliah saja.
Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur sedang asyik memasak. Dengan
langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja makan.
Tante
Yun, belum siap yah makanannya? tanyaku kelaparan.
Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi,
jadinya ya gini nih repot sendiri keluh tanteku
Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan
dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau
tanteku tidak pernah kerja Sekeras ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat
sekali wajah tanteku semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan daster
pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena bentuk pantat dan pinggulnya
yang besar, daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari
celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. Ah, seksi sekali
pikirku kotor.
Wawan
bantuin ya Tante? tawarku.
Boleh Wan, sini! ternyata tanteku tidak keberatan.
Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah karena apa
tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang
langsung dari tandon air yang penuh menyembur dengan derasnya mengenai tanteku
yang kebetulan ada didepannya.
Aduh Wan, tolong.., gimana ini? tanteku dengan paniknya berusaha menutupi
saluran air yang menyembur dengan tangannya.
Karena tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus
sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali
lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih
jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya
menutup saluran air itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi
tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan,
tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal. Keadaan ini
bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku.
Aduh Wan gimana ini? tanya tanteku tanpa bisa bergerak.
Duh gimana ya Tante, aku juga bingung. kataku mengulur waktu.
Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak
bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas satu
tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring,
mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya
aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi
akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku
sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
Wah,
nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah
Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku
di saluran air.
Pegang dulu Tante kataku sedikit terengah menahan gairah.
Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih sungut tanteku.
Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian
secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah
warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.
Ehh..
apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!? tanpa sadar tanteku melepas pegangannya
disaluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana
dalamnya. Air menyembur lagi.
Auhh..
ohh suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air. Tanpa sadar
juga tanteku berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis
tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi.
Kesempatan pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku melorot sampai
diujung kakinya.
Auwch.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann.. Mohon tanteku.
Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar
dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku untuk
mencapai vaginanya.
Auwchh.. Wan.. ahh.. jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa
beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.
Lidahku
semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat tanteku
bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang
menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak
keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua
jariku juga ikut menusuk liang vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang
keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.
Ahh..hh
Wann.. ahh aouhh.. dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai
orgasme. Tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran
air.
Aduh aku belum apa-apa pikirku.
Langsung aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras.
Dengan dua tanganku aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil
kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan sedikit demi sedikit. Begitu sudah
betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung
kulesakkan dengan kasar.
Ahh
sakit Wan.. pelan.. auh kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja
pegangannya di saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras. Kepalang
basah, begitu mungkin pikir tanteku karena selanjutnya dia hanya berpegangan
dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku.
Kudiamkan
sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam vagina tanteku, ku
nikmati benar-benar bagaimana ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga
orang manusia ini masih saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa
sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.
Oohh..
Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang pantatnya
bergoyang melawan arah dari kocokanku.
Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss.. Pinta tanteku.
Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai
bergetar hebat.
Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus kepalanya semakin
menggeleng-geleng tidak karuan.
Cepatt.. cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh Orgasmenya telah sampai
dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran
cucian piring dengan erat.
Cabut dulu Wan.. Tante linuu.. pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih
mengocoknya dari belakang.
Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante? kataku.
Iya, tapi sekarang dari depan aja yah janji tanteku.
Tubuhnya
kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia
duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat, langsung kucari
bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu
tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya. Tanpa disuruh dua kali
kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.
Ahh..
oohh.. erang tanteku, ciuman kami terlepas.
Kocokkan yang cepatt wann.. pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.
Begini Tante.. Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.
Gila kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu.. sambil satu tangannya menarik satu
tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau maksudnya.
Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan teeruss.. rintih tanteku ketika
sambil kontolku mengocok vaginanya tanganku juga memelintir klitorisnya.
Ohh Wan, Tante hampir sampai.. tubuhnya mulai bergetar agak keras.
Aku juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk.. aku mulai tidak bisa
mengendalikan lagi, orgasmeku tinggal sebentar lagi.
Dikeluarin dimana Tante? tanyaku minta ijin.
Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa
Ayoo..Tante udah diujung nihh wann..
Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt rintih tanteku.
Goyang
Tante, kita barengan ajaa.. oghh orgasmeku sudah diujung.
Semakin kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang
pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.
Aku keluarr tantee.. aughh.. sambil kubenamkan dalam-dalam.
Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya.. erangnya sambil jemarinya
mencengkeram bahuku.
Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada
didalam vaginanya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari vaginanya.
Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong badanku.
Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini sungut tanteku.
Tapi Tante juga menikmatinya kan? belaku.
Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian
berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk
kamar mandi kemudian menguncinya.
Tante air di tandon tadi sudah habis loh candaku dari luar kamar mandi tapi
tidak ada balasan dari dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar